Ada hal yang sedikit ngegelitik gw setiap kali denger kata budaya dalam baahsa Indonesia. Ini cuman pendapat awam gw aja, mungkin. Tapi entah kenapa kata budaya di Indonesia berkaitan erat dengan “kesenian:. Padahal kalau kita lihat beberapa definisi mengenai budaya dari para ahli antropologi, misalnya Koentjaraningrat dll, bila kita tafsirkan, sebenarnya memiliki defnisi yang sangat luas.
Coba saja, misalnya, di Fakultas tempat gw kuliah, Fakultas Ilmu Budaya, belakangan ini dibangun beberapa bangunan kecil (mungkin lebih tepatnya patung atau hiasan, mungkin) sepertinya dengan maksud memperlihatkan kepada orang yang berkunjung ke kampus bahwa “kami lah orang yangmenghagai budaya”
Ini hana kesan yang saya tangkap saja.
Lalu, kenapa budaya>?
tertark dengan hal ini, gw coba nelusurin beberapa situs atau buku2 yang berhubungan dnegan ini.
Pertama, definisi budaya menurut … dan…. adalah…….
Sedangkan, kesenian dalam bahasa ndonesia…..
Kata padanan dari culture ke dalam bahasa Indonesia sebenarnya lebih dekat kepada kultur bila dibandingkan dengan budaya. Walaupun terkadang kita juga mendengar padanan kata “working culture” dipaankan dengan “budaya kerja”, dll, namun adakalanya kata budaya memiliki fungsi yang kabur dan disalahtafsirkan sebagai “hasil kesenian” atau “peninggalan budaya. Lebih sempit lagi, terkadang diangap sebagai “hasil kesenian yang sudah kuno”. Maka tidak heran bila (mungkin) ada saja seseorang yang ketika ia mendengar kata budaya maka yang aa di benaknya adalah candi borobudur, sarkofagus, dll.
D Indonesia ada Departemen Pendidika dfan kebudayaan. apakah tugas dari departemen ini? Apa fungsi kata Kebudayaan yang disandang Departemen itu? apakah Departemen tersebut berfungsi melestarikan budaya “masa lampau” ndonesia dan menghalangi tumbuhlembangnya budaya Indonesia?
saya belum dapa menemukan jawabannya saat ini, namun, seiring dengan jalanya waktu mungkin hal ini akan terjawab dengan sednirinya atau (malah) hilang dengan sendirinya.
Tag: budaya, budaya indonesia kultur FIB UI reza dinamis, dinamis, FINB, Indonesia, kultur, UI reza